siapa warga negara itu

Kewarganegaraan merupakan keanggotaan seseorang dalam satuan politik tertentu (secara khusus: negara) yang dengannya membawa hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan politik. Seseorang dengan keanggotaan yang demikian disebut warga negara. Seorang warga negara berhak memiliki paspor dari negara yang dianggotainya.

Kewarganegaraan merupakan bagian dari konsep kewargaan (bahasa Inggris: citizenship). Di dalam pengertian ini, warga suatu kota atau kabupaten disebut sebagai warga kota atau warga kabupaten, karena keduanya juga merupakan satuan politik. Dalam otonomi daerah, kewargaan ini menjadi penting, karena masing-masing satuan politik akan memberikan hak (biasanya sosial) yang berbeda-beda bagi warganya.

Kewarganegaraan memiliki kemiripan dengan kebangsaan (bahasa Inggris: nationality). Yang membedakan adalah hak-hak untuk aktif dalam perpolitikan. Ada kemungkinan untuk memiliki kebangsaan tanpa menjadi seorang warga negara (contoh, secara hukum merupakan subyek suatu negara dan berhak atas perlindungan tanpa memiliki hak berpartisipasi dalam politik). Juga dimungkinkan untuk memiliki hak politik tanpa menjadi anggota bangsa dari suatu negara.

Di bawah teori kontrak sosial, status kewarganegaraan memiliki implikasi hak dan kewajiban. Dalam filosofi “kewarganegaraan aktif”, seorang warga negara disyaratkan untuk menyumbangkan kemampuannya bagi perbaikan komunitas melalui partisipasi ekonomi, layanan publik, kerja sukarela, dan berbagai kegiatan serupa untuk memperbaiki penghidupan masyarakatnya. Dari dasar pemikiran ini muncul mata pelajaran Kewarganegaraan (bahasa Inggris Civics) yang diberikan di sekolah-sekolah.

Kewarganegaraan Republik Indonesia

 

Seorang Warga Negara Indonesia (WNI) adalah orang yang diakui oleh UU sebagai warga negara Republik Indonesia. Kepada orang ini akan diberikan Kartu Tanda Penduduk, berdasarkan Kabupaten atau (khusus DKI Jakarta) Provinsi, tempat ia terdaftar sebagai penduduk/warga. Kepada orang ini akan diberikan nomor identitas yang unik (Nomor Induk Kependudukan, NIK) apabila ia telah berusia 17 tahun dan mencatatkan diri di kantor pemerintahan. Paspor diberikan oleh negara kepada warga negaranya sebagai bukti identitas yang bersangkutan dalam tata hukum internasional.

Kewarganegaraan Republik Indonesia diatur dalam UU no. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia. Menurut UU ini, orang yang menjadi Warga Negara Indonesia (WNI) adalah

  1. setiap orang yang sebelum berlakunya UU tersebut telah menjadi WNI
  2. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari ayah dan ibu WNI
  3. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ayah WNI dan ibu warga negara asing (WNA), atau sebaliknya
  4. anak yang lahir dari perkawinan yang sah dari seorang ibu WNI dan ayah yang tidak memiliki kewarganegaraan atau hukum negara asal sang ayah tidak memberikan kewarganegaraan kepada anak tersebut
  5. anak yang lahir dalam tenggang waktu 300 hari setelah ayahnya meninggal dunia dari perkawinan yang sah, dan ayahnya itu seorang WNI
  6. anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu WNI
  7. anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari ibu WNA yang diakui oleh seorang ayah WNI sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 tahun atau belum kawin
  8. anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia yang pada waktu lahir tidak jelas status kewarganegaraan ayah dan ibunya.
  9. anak yang baru lahir yang ditemukan di wilayah negara Republik Indonesia selama ayah dan ibunya tidak diketahui
  10. anak yang lahir di wilayah negara Republik Indonesia apabila ayah dan ibunya tidak memiliki kewarganegaraan atau tidak diketahui keberadaannya
  11. anak yang dilahirkan di luar wilayah Republik Indonesia dari ayah dan ibu WNI, yang karena ketentuan dari negara tempat anak tersebut dilahirkan memberikan kewarganegaraan kepada anak yang bersangkutan
  12. anak dari seorang ayah atau ibu yang telah dikabulkan permohonan kewarganegaraannya, kemudian ayah atau ibunya meninggal dunia sebelum mengucapkan sumpah atau menyatakan janji setia.

Selain itu, diakui pula sebagai WNI bagi

  1. anak WNI yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 tahun dan belum kawin, diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing
  2. anak WNI yang belum berusia lima tahun, yang diangkat secara sah sebagai anak oleh WNA berdasarkan penetapan pengadilan
  3. anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan bertempat tinggal di wilayah RI, yang ayah atau ibunya memperoleh kewarganegaraan Indonesia
  4. anak WNA yang belum berusia lima tahun yang diangkat anak secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh WNI.

Kewarganegaraan Indonesia juga diperoleh bagi seseorang yang termasuk dalam situasi sebagai berikut:

  1. Anak yang belum berusia 18 tahun atau belum kawin, berada dan bertempat tinggal di wilayah Republik Indonesia, yang ayah atau ibunya memperoleh kewarganegaraan Indonesia
  2. Anak warga negara asing yang belum berusia lima tahun yang diangkat anak secara sah menurut penetapan pengadilan sebagai anak oleh warga negara Indonesia

Di samping perolehan status kewarganegaraan seperti tersebut di atas, dimungkinkan pula perolehan kewarganegaraan Republik Indonesia melalui proses pewarganegaraan. Warga negara asing yang kawin secara sah dengan warga negara Indonesia dan telah tinggal di wilayah negara Republik Indonesia sedikitnya lima tahun berturut-turut atau sepuluh tahun tidak berturut-turut dapat menyampaikan pernyataan menjadi warga negara di hadapan pejabat yang berwenang, asalkan tidak mengakibatkan kewarganegaraan ganda.

Berbeda dari UU Kewarganegaraan terdahulu, UU Kewarganegaraan tahun 2006 ini memperbolehkan dwikewarganegaraan secara terbatas, yaitu untuk anak yang berusia sampai 18 tahun dan belum kawin sampai usia tersebut. Pengaturan lebih lanjut mengenai hal ini dicantumkan pada Peraturan Pemerintah no. 2 tahun 2007.

Dari UU ini terlihat bahwa secara prinsip Republik Indonesia menganut asas kewarganegaraan ius sanguinis; ditambah dengan ius soli terbatas (lihat poin 8-10) dan kewarganegaraan ganda terbatas (poin 11).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hak Asasi Manusia “Human Right”

HAK ASASI MANUSIA “HUMAN RIGHTS”

 

Pengertian Hak Asasi Manusia
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia (Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM).

 

Hak asasi manusia dalam bahasa Prancis disebut “Droit L’Homme”, yang artinya hak-hak manusia dan dalam bahsa Inggris disebut “Human Rights”. Seiring dengan perkembangan ajaran Negara Hukum, di mana manusia atau warga negara mempunyai hak-hak utama dan mendasar yang wajib dilindungi oleh Pemerintah, maka

muncul istilah “Basic Rights” atau “Fundamental Rights”. Bila diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah merupakan hak-hak dasar manusia

atau lebih dikenal dengan istilah “Hak asasi

manusia”.(Ramdlon Naning; 1982 : 97).

 

Meriam Budiardjo, mengemukakan bahwa : “Hak asasi manusia adalah hak yang dimilikimanusia yang telah diperoleh dan dibawanya bersamaan dengan kelahirannya di dalamkehidupan masyarakat. Dianggap bahwa beberapa hak itu dimilikinya tanpa perbedaan atas dasar bangsa, ras, agama, kelamin dank arena itu

bersifat universal. Dasar dari semua hak asasi ialah

bahwa manusia memperoleh kesempatan

berkembang sesuai dengan harkat dan cita-citanya.

 

Secara umum Hak Asasi Manusia adalah hak dasar yang secara kodrat melekat pada diri manusia, bersifat universal dan harus dilindungi secara hukum. Oleh karena itu tidak dapat dikurangi, dirampas dan karenanya harus dipertahankan.

Di Indonesia dalam Bab XA Perubahan Undang-Undang Dasar 1945 ditentukan mengenai Hak Asasi Manusia, Namun kaitannya dengan hak-hak di bidang ekonomi, sosial dan budaya, identifikasinya belum rinci

dan jelas. Oleh karena hak-hak yang berkaitan dengan hak di bidang ekonomi, sosial dan budaya, masih tersebar dalam Pasal-Pasal Perubahan UUD 1945.

 

Di dalam Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia, dalam menimbang huruf b ditentukan bahwa : Hak asasi manusia merupakan hak dasar yang

secara kodrati melekat pada diri manusia, bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu

harus dilindungi, dihormati, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun.

Pengertian hak asasi dikemukakan oleh para sarjana di atas maupun dalam Undang-undang No. 3 tahun 1999 adalah hak-hak alamiah dari manusia.

Leach Levin seorang aktivis Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa

mengemukakan bahwa konsep Hak Asasi Manusia ada dua pengertian dasar, yaitu :

Pertama, ialah bahwa hak asasi manusia tidak bias dipisahkan dan dicabut adalah hak manusia karena ia seorang manusia. Hak adalah hak-hak moral yang berasal dari kemanusiaan setiap insan dan hak-hak itu bertujuan untuk menjamin matabat setiap

manusia (Natural Rights).

Kedua, hak asasi manusia adalah hak-hak menurut hukum, yang dibuat melalui proses pembentukan hukum dari masyarakat itu sendiri, baik secara

nasional maupun secara internasional. Dasar dari hak-hak ini adalah persetujuan dari yang diperintah, yaitu persetujuan dari para warga negara, yang

tunduk kepada hak-hak itu dan tidak hanya tata tertib alamiah yang merupakan dasar dari arti yang pertama.(Levin, Leach; terjemahan Ny.Nartomo;1987 :3)

Pelanggaran Hak Asasi Manusia adalah setiap perbuatan seseoarang atau kelompok orang termasuk aparat negara baik disengaja maupun tidak disengaja atau kelalaian yang secara melawan hukum mengurangi, menghalangi, membatasi dan atau mencabut Hak Asasi Manusia seseorang atau kelompok orang yang dijamin oleh Undang-undang, dan tidak mendapatkan atau dikhawatirkan tidak akan memperoleh penyelesaian hukum yang adil dan benar berdasarkan mekanisme hukum yang berlaku (Pasal 1 angka 6 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM).

Posted in Uncategorized | Leave a comment

implementasi Hak Asasi Manusia di Indonesia

Konsep Dan Implementasi Hak Asasi Manusia (Human Right) di Indonesia

Pada saat ini HAM telah menjadi issue global, yang tidak mungkin diabaikan dengan dalih apapun termasuk di Indonesia. Konsep dan implementasi HAM di setiap negara tidak mungkin sama, meskipun demikian sesungguhnya sifat dan hakikat HAM itu sama. Dalam hal ini, ada tiga konsep dan model pelaksanaan HAM di dunia yang dianggap mewakili, masing-masing di negara-negara Barat, Komunis-Sosialis dan ajaran Islam. Adanya HAM menimbulkan konsekwensi adanya kewajiban asasi, di mana keduanya berjalan secara paralel dan merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Pengabaian salah satunya akan menimbulkan pelanggaran HAM itu sendiri. Khusus tentang implementasi HAM di Indonesia, meskipun ditengarai banyak kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia dan belum kondusifnya mekanisme penyelesaiannya,, tetapi secara umum baik menyangkut perkembangan dan penegakkannya mulai menampakkan tanda-tanda kemajuan. Hal ini terlihat dengan adanya regulasi hukum HAM melalui peraturan perundang-undangan serta dibentuknya Pengadilan HAM dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi.

“Demokrasi tanpa kebebasan sipil”, demikian istilah yang melekat untuk Indonesia dengan iklim kehidupan sosial politiknya. Apalagi jika kita menyoroti kondisi kehidupan beragama, kebebasan agaknya merupakan sebuah “barang langka”. Karena melaksanakan sholat dua bahasa Usman Roy harus mendekam dalam penjara, perlakuan yang sama juga dialami oleh Lia Aminuddin sebagai pemimpin “komunitas eden” karena dianggap sebagai nabi palsu. Belum lagi teror fisik dan penyerangan yang dilakukan terhadap Jamaah Ahmadiyah, serta kasus terakhir yang belakangan ini menimpa Ahmad Mushadieq dengan ajaran al-qiyadah al-Islamiyahnya. Seluruh catatan-catatan fenomena tersebut menjadi bukti nyata bahwa Indonesia merupakan negeri yang belum cukup longgar terhadap kebebasan beragama. Padahal, Indonesia merupakan negeri pancasila yang mencerminkan “keanekaragaman” dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika-nya.
Apa yang salah dengan negeri pancasila?, bukankah kebebasan beragama telah mendapatkan jaminan konstitusi yang cukup kuat di negeri ini?, lantas mengapa kebebasan beragama seolah tidak memiliki tempat di bumi pancasila? Tulisan ini merupakan sebuah pengembaraan intelektual guna menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut, sembari mengurai realitas implementasi Hak Azasi Manusia, tulisan ini akan mengantarkan kita kepada fenomena-fenomena kondisi realitas kebebasan beragama di Indonesia.

Rapuhnya Jaminan Konstitusi Kebebasan Beragama
Jika kita merujuk pada pasal 28 (e) ayat 2 undang-undang hasil amandemen, di sana disebutkan: Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan fikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”. undang-undang ini disempurnakan pula dengan pasal 29 ayat 1 dan 2 yang menyebutkan: Negara berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa, Negara Menjamin Kemerdekaan Tiap-tiap Penduduk untuk memeluk agamanya, dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Undang-undang yang baru disebutkan diatas pada prinsipnya sudah cukup mapan sebagai jaminan konstitusi untuk kebebasan beragama di Indonesia. Jika ditafsirkan secara bebas, undang-undang ini mencerminkan beberapa prinsip tentang hak kebebasan beragama, yaitu: hak untuk meyakini suatu kepercayaan, dan hak untuk mengekspresikan fikiran serta sikap sesuai dengan hati nurani.
Namun demikian, melihat fenomena yang dicontohkan beberapa kasus yang telah disebutkan sebelumnya, agaknya jaminan konstitusi terhadap-hak-hak tersebut belum terimplementasi dengan baik. Jika saja undang-undang ini terimplementasi dengan baik, barangkali tidak akan ada kelompok yang diklaim sebagai aliran sesat, dan atau jikapun ada, setidaknya mereka yang dinilai sesat masih bebas menikmati haknya untuk tetap hidup dan tumbuh di negeri ini. Bukan sebaliknya, perlakuan terhadap mereka yang dinilai sesat justru mencerminkan penghakiman terhadap keyakinan yang bersumber dari hati nurani mereka.
Fenomena yang paling menggelitik adalah, jaminan konstitusi terhadap kebebasan beragama di Indonesia seolah hanya merupakan “macan kertas” yang tidak memiliki power sedikitpun. Terbukti, tindakan kurang adil yang dilakukan pemerintah (juga mayoritas masyarakat) terhadap kelompok-kelompok yang dinilai sesat ini bukan didasarkan pada konstitusi yang berlaku secara legal-universal, malah tindakan tersebut dipicu oleh keputusan yang masih bisa diperdebatkan (fatwa MUI misalnya), tentu keputusan yang dikeluarkan lembaga semacam ini tidak dapat diberlakukan secara universal. Pada akhirnya konstitusi yang semsetinya bersifat legal-universal menyangkut kebebasan beragama di negeri ini mengalami kerapuhan dengan sendirinya, jika tidak dikatakan kurang berguna, atau malah tidak berguna sama sekali.
Jika dicermati lebih jauh, rapuhnya jaminan konstitusi kebebasan beragama tidak saja diakibatkan oleh kurang terimplementasinya undang-undang dimaksud, lebih dari itu kerapuhan tersebut disebabkan pula oleh penafsiran yang kerap kali dipersempit pada undang-undang turunannya. Pada gilirannya kondisi ini melahirkan hukum yang saling tumpang tindih, bahkan kontradiktif antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya. Lihat misalnya undang-undang No 1/PNPS/1965 yang menyebutkan ada enam agama di Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, sangat kontradiktif dengan Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No 477/ 74054/ BA.012/ 4683/95 tertanggal 18 November 1978 yang menyatakan bahwa agama yang diakui pemerintah ada lima: Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, meskipun belakangan Konghucu diakui kembali sejak masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.
Pembatasan 5 dan atau 6 agama yang diakui di Indonesia tentu menjadi ancaman serius terhadap masa depan kebebasan beragama. Apabila pembatasan ini mutlak dipahami dan dipegang teguh oleh pemerintah maupun masyarakat pada umumnya, akan sangat wajar jika agama agama lain diluar agama yang diakui tersebut sulit untuk di terima hidup di di negeri ini, bahkan agama-agama lokal sekalipun yang memang lahir dan tumbuh dari tradisi asli bangsa Indonesia, seperti agama Kaharingan di Kalimantan, Sunda Wiwitan di daerah Jawa, dan agama Parmalin yang terdapat di Tanah Batak Sumatera Utara, yang kerap dipandang sebagai kebudaya belaka. Lebih dari itu, pembatasan ini sangat jelas bertentangan dengan jaminan konstitusi terhadap kebebasan beragama yang telah diatur dalam sistem perundangan di Indonesia, khususnya yang termaktub pada pasal 28 (e) dan pasal 29 undang-undang 1945.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

implementasi Hak Asasi Manusia di Indonesia

Konsep Dan Implementasi Hak Asasi Manusia (Human Right) di Indonesia

Pada saat ini HAM telah menjadi issue global, yang tidak mungkin diabaikan dengan dalih apapun termasuk di Indonesia. Konsep dan implementasi HAM di setiap negara tidak mungkin sama, meskipun demikian sesungguhnya sifat dan hakikat HAM itu sama. Dalam hal ini, ada tiga konsep dan model pelaksanaan HAM di dunia yang dianggap mewakili, masing-masing di negara-negara Barat, Komunis-Sosialis dan ajaran Islam. Adanya HAM menimbulkan konsekwensi adanya kewajiban asasi, di mana keduanya berjalan secara paralel dan merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Pengabaian salah satunya akan menimbulkan pelanggaran HAM itu sendiri. Khusus tentang implementasi HAM di Indonesia, meskipun ditengarai banyak kasus pelanggaran HAM berat di Indonesia dan belum kondusifnya mekanisme penyelesaiannya,, tetapi secara umum baik menyangkut perkembangan dan penegakkannya mulai menampakkan tanda-tanda kemajuan. Hal ini terlihat dengan adanya regulasi hukum HAM melalui peraturan perundang-undangan serta dibentuknya Pengadilan HAM dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM berat yang terjadi.

“Demokrasi tanpa kebebasan sipil”, demikian istilah yang melekat untuk Indonesia dengan iklim kehidupan sosial politiknya. Apalagi jika kita menyoroti kondisi kehidupan beragama, kebebasan agaknya merupakan sebuah “barang langka”. Karena melaksanakan sholat dua bahasa Usman Roy harus mendekam dalam penjara, perlakuan yang sama juga dialami oleh Lia Aminuddin sebagai pemimpin “komunitas eden” karena dianggap sebagai nabi palsu. Belum lagi teror fisik dan penyerangan yang dilakukan terhadap Jamaah Ahmadiyah, serta kasus terakhir yang belakangan ini menimpa Ahmad Mushadieq dengan ajaran al-qiyadah al-Islamiyahnya. Seluruh catatan-catatan fenomena tersebut menjadi bukti nyata bahwa Indonesia merupakan negeri yang belum cukup longgar terhadap kebebasan beragama. Padahal, Indonesia merupakan negeri pancasila yang mencerminkan “keanekaragaman” dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika-nya.

Apa yang salah dengan negeri pancasila?, bukankah kebebasan beragama telah mendapatkan jaminan konstitusi yang cukup kuat di negeri ini?, lantas mengapa kebebasan beragama seolah tidak memiliki tempat di bumi pancasila? Tulisan ini merupakan sebuah pengembaraan intelektual guna menemukan jawaban-jawaban dari pertanyaan tersebut, sembari mengurai realitas implementasi Hak Azasi Manusia, tulisan ini akan mengantarkan kita kepada fenomena-fenomena kondisi realitas kebebasan beragama di Indonesia.

Rapuhnya Jaminan Konstitusi Kebebasan Beragama

Jika kita merujuk pada pasal 28 (e) ayat 2 undang-undang hasil amandemen, di sana disebutkan: Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan fikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya”. undang-undang ini disempurnakan pula dengan pasal 29 ayat 1 dan 2 yang menyebutkan: Negara berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa, Negara Menjamin Kemerdekaan Tiap-tiap Penduduk untuk memeluk agamanya, dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”. Undang-undang yang baru disebutkan diatas pada prinsipnya sudah cukup mapan sebagai jaminan konstitusi untuk kebebasan beragama di Indonesia. Jika ditafsirkan secara bebas, undang-undang ini mencerminkan beberapa prinsip tentang hak kebebasan beragama, yaitu: hak untuk meyakini suatu kepercayaan, dan hak untuk mengekspresikan fikiran serta sikap sesuai dengan hati nurani.

Namun demikian, melihat fenomena yang dicontohkan beberapa kasus yang telah disebutkan sebelumnya, agaknya jaminan konstitusi terhadap-hak-hak tersebut belum terimplementasi dengan baik. Jika saja undang-undang ini terimplementasi dengan baik, barangkali tidak akan ada kelompok yang diklaim sebagai aliran sesat, dan atau jikapun ada, setidaknya mereka yang dinilai sesat masih bebas menikmati haknya untuk tetap hidup dan tumbuh di negeri ini. Bukan sebaliknya, perlakuan terhadap mereka yang dinilai sesat justru mencerminkan penghakiman terhadap keyakinan yang bersumber dari hati nurani mereka.

Fenomena yang paling menggelitik adalah, jaminan konstitusi terhadap kebebasan beragama di Indonesia seolah hanya merupakan “macan kertas” yang tidak memiliki power sedikitpun. Terbukti, tindakan kurang adil yang dilakukan pemerintah (juga mayoritas masyarakat) terhadap kelompok-kelompok yang dinilai sesat ini bukan didasarkan pada konstitusi yang berlaku secara legal-universal, malah tindakan tersebut dipicu oleh keputusan yang masih bisa diperdebatkan (fatwa MUI misalnya), tentu keputusan yang dikeluarkan lembaga semacam ini tidak dapat diberlakukan secara universal. Pada akhirnya konstitusi yang semsetinya bersifat legal-universal menyangkut kebebasan beragama di negeri ini mengalami kerapuhan dengan sendirinya, jika tidak dikatakan kurang berguna, atau malah tidak berguna sama sekali.

Jika dicermati lebih jauh, rapuhnya jaminan konstitusi kebebasan beragama tidak saja diakibatkan oleh kurang terimplementasinya undang-undang dimaksud, lebih dari itu kerapuhan tersebut disebabkan pula oleh penafsiran yang kerap kali dipersempit pada undang-undang turunannya. Pada gilirannya kondisi ini melahirkan hukum yang saling tumpang tindih, bahkan kontradiktif antara hukum yang satu dengan hukum yang lainnya. Lihat misalnya undang-undang No 1/PNPS/1965 yang menyebutkan ada enam agama di Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghucu, sangat kontradiktif dengan Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri No 477/ 74054/ BA.012/ 4683/95 tertanggal 18 November 1978 yang menyatakan bahwa agama yang diakui pemerintah ada lima: Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, meskipun belakangan Konghucu diakui kembali sejak masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.

Pembatasan 5 dan atau 6 agama yang diakui di Indonesia tentu menjadi ancaman serius terhadap masa depan kebebasan beragama. Apabila pembatasan ini mutlak dipahami dan dipegang teguh oleh pemerintah maupun masyarakat pada umumnya, akan sangat wajar jika agama agama lain diluar agama yang diakui tersebut sulit untuk di terima hidup di di negeri ini, bahkan agama-agama lokal sekalipun yang memang lahir dan tumbuh dari tradisi asli bangsa Indonesia, seperti agama Kaharingan di Kalimantan, Sunda Wiwitan di daerah Jawa, dan agama Parmalin yang terdapat di Tanah Batak Sumatera Utara, yang kerap dipandang sebagai kebudaya belaka. Lebih dari itu, pembatasan ini sangat jelas bertentangan dengan jaminan konstitusi terhadap kebebasan beragama yang telah diatur dalam sistem perundangan di Indonesia, khususnya yang termaktub pada pasal 28 (e) dan pasal 29 undang-undang 1945.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

materi bab 8-11

Bab 8 MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP

A.   PENGERTIAN PANDANGAN HIDUP

Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia berdasarkan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.

Pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yang terdiri dari 3 macam, yaitu:

    1. Pandangan hidup yang berasal dari agama, yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
    2. Pandangan hidup yang berupa Ideologi, yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
    3. Pandangan hidup hasil renungan, yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.

Pandangan hidup mempunyai 4 unsur-unsur, yaitu:

  1. Cita-cita apa yang diinginkan yang mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan.
  2. Kebajikan segala hal yang baik yang membuat manusia makmur, bahagia, damai dan tenteram.
  3. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi keyakinan.
  4. Keyakinan atau kepercayaan, merupakan hal terpenting dalam hidup manusia.

B.  CITA-CITA

Cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan, yang selalu ada dalam pikiran. Cita-cita merupakan pandangan masa depan dan pandangan hidup dimasa yang akan datang.

Apabila cita-cita belum tercapai maka cita-cita tersebut disebut angan-angan. Ada 3 faktor yang menentukan seseorang dapat atau tidak mencapai cita-citanya, yaitu:

–        Manusianya yang memiliki cita-cita

–        Kondisi yang dihadapi selama mencapai apa yang dicita-citakan

–        Seberapa tinggi cita-cita yang hendak dicapai.

Faktor manusia yang ingin mencapai cita-citanya ditentukan oleh kualitas manusianya. Cara keras dalam mencapai cita-cita  merupakan suatu perjuangan hidup yang apabila berhasil akan menimbulkan kepuasan.

Faktor kondisi yang mempengaruhi tercapainya cita-cita, pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar tercapainya suatu cita-cita sedangkan faktor yang menghambat merupakan kondisi yang merintangi.

  1. KEBAJIKAN

Kebajikan atau kebaikan adalah suatu perbuatan yang mendatangkan kesenangan bagi diri sendiri maupun orang lain. Kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral yang sesuai dengan norma-norma agama dan etika.

Manusia berbuat baik karena pada hakekatnya manusia itu baik. Makhluk bermoral atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik.

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Manusia membutuhkan orang lain untuk dapat bertahan hidup. Untuk dapat melihat kebajikan kita harus melihat dari 3 segi, yaitu manusia sebagai mahluk pribadi, manusia sebagai anggota masyarakat dan manusia sebagai makhluk Tuhan.

Suara hati adalah semacam bisikan didalam hati yang mendesak seseorang untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan. Jadi suara hati dapat merupakan hakim untuk diri sendiri. Sebab itu nilai suara hati amat besar dan penting dalam hidup manusia.

Kebajikan adalah perbuatan yang selaras dengan suara hati kita, suara hati masyarakat dan Tuhan. Kebajikan berarti: berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak meransang bagi  yang melihatnya

  1. USAHA DAN PERJUANGAN

Usaha dan perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Sebagian hidup manusia adalah usaha atau berusaha. Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, maka ia harus bekerja keras. Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak atau ilmu maupun dengan tenaga atau jasmani bahkan dengan keduanya.

Kerja keras pada dasarnya menghargai dan meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya pemalas membuat manusia iri, miskin dan melarat bahkan menjatuhkan harkat dan martabatnya sebagai seorang manusia

  1. KEYAKINAN ATAU KEPERCAYAAN

Keyakinan atau kepercayaan berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution, ada 3 aliran filsafat, yaitu:

a. Aliran Naturalisme, aliran ini berintikan spekulasi mungkin ada Tuhan mungkin

juga tidak. Dasar aliran ini adalah kekuatan gaib dari nature dan itulah

ciptaan Tuhan. Bagi yang percaya adanyaTuhan, itulah kekuasaan tertinggi.

Manusia adalah ciptaan Tuhan karena itu manusia mengabdi kepada Tuhan

berdasarkan ajaran ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama ada 2 macam,

yaitu:

1. Ajaran agama yang dogmatis, yang disampaikan Tuhan melalui ajaran para

nabi.

2. Ajaran agama dari pemuka agama, yaitu sebagai hasil pemikiran manusia

sifatnya relatif.

b.Aliran Intelektualisme, besar aliran ini adalah logika atau akal. Akal berasal dari bahasa Arab yaitu qolbu yang berpusat dihati, sehingga timbullah istilah “hati nurani” artinya daya rasa. Apabila aliran ini dihubungkan dengan pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal.

C.Aliran gabungan, dasar aliran ini adalah perbuatan yang gaib dan akal. Kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, sedangkan akal adalah dasar kebudayaan yang menentukan benar tidaknya sesuatu.

F. LANGKAH LANGKAH BERPANDANGAN HIDUP YANG BAIK

Langkah-langkah berpandangan hidup yang baik yaitu:

  1. Mengenal, merupakan suatu kodrat bagi manusia dan tahap hidup pertama dari setiap individu. Sebagai seorang muslim kita mengenal pandangan hidup yaitu alquran dan hadist serta ijamak Ulama yang merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.
  2. Mengerti, mengerti disini dimaksudkan pada mengerti tentang pandangan hidup.

3.  Menghayati, menghayati nilai-nilai yang terkandung dalam pandangan hidup yaitu dengan memperluas dan memperdalam pengetahuan mengenai pandangan hidup.

4.            Meyakini, merupakan suatu hal yang cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai tujuan hidupnya.

5.   Mengabdi, merupakan suatu hal yang penting dalam menghayati dan meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya sendiri lebih dari orang lain.

6.            Mengamankan, merupakan langkah terberat dan benar-benar membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu demi tegaknya pandangan hidup itu.

9 MANUSIA DAN TANGGUNGJAWAB

1.  PENGERTIAN TANGGUNGJAWAB

Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatannya yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya.

2.   MACAM-MACAM TANGGUNGJAWAB

A .Tanggungjawab terhadap diri sendiri

Tanggungjawab terhadap diri sendiri menuntut kesadaran    setiap orang untuk memenuhi kewajibannya sendiri dalam mengembangkan kepribadian sebagai manusia pribadi. Dengan demikian bisa memecahkan masalah-masalah                 kemanusiaan mengenai dirinya sendiri.

B .TanggungJawab Kepada Bangsa Dan Negara

Dalam berpikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara. Manusia tidak dapat berbuat semaunya sendiri.

Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kepada negara.

C .TanggungJawab Terhadap Tuhan

Tuhan menciptakan manusia di bumi ini bukanlah tanpa tanggungjawab, melainkan untuk mengisi kehidupannya manusia mempunyai tanggungjawab langsung terhadap Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukuman-hukuman Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama.

D .TanggungJawab Terhadap Keluarga

merupakan kesejahteraan, keselamatan, pendidikan, dan kehiTiap anggota keluarga wajib bertanggungjawab kepada keluarganya. Tanggungjawab ini menyangkut nama baik keluarga. Tetapi tanggungjawab ini juga dupan.

E .TanggungJawab Terhadap Masyarakat

Pada hakekatnya manusia tidak bisa hidup tanpa bantuan manusia lain, sesuai dengan kedudukannya sebagai makhluk sosial. Sehingga dengan demikian manusia disini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggungjawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut

3.   PENGABDIAN DAN PENGORBANAN

A .Pengabdian

Pengabdian adalah perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan, cinta kasih , kasih sayang, hormat,atau satu ikatan dan semua itu dilakukan dengan ikhlas. Pengabdian itu pada hakekatnya adalah rasa tanggungjawab. Apabila orang bekerja keras sehari penuh untuk mencukupi kebutuhan. Hal itu berarti mengabdi kepada keluarga.

B .Pengorbanan

Pengorbanan berasal dari kata korban atau qurban yang berarti persembahan, sehingga pengorbanan berarti pemberian untuk menyatakan kebaktian. Dengan demikian pengorbanan yang bersifat kebaktian itu mengandung unsur keikhlasan yang tidak mengandung pamrih.

Bab 10 manusia dan kegelisahan

A.  PENGERTIAN KEGELISAHAN

Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tentram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, cemas.

Menurut Sigmund Freud (ahli psikoanalisa),  kecemasan ada 3 macam :

A  . Kecemasan obyekif

Kecemasan tentang kenyataan adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan atau suatu bahaya dalam dunia luar.

B . Kecemasan neoritis (syaraf)

Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah. Kecemasan ini dibagi 3 macam, yakni :

(1). Kecemasan yang timbul karena penyesuaian lingkungan;

(2). Bentuk ketakutan yang tegang dan irrasional (phobia)

(3). Rasa takut lain ialah rasa gugup, gagap dan sebagainya.

c. Kecemasan moril

Kecemasan moril disebabkan karena pribadi seseorang (iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah dan cinta).

B. SEBAB-SEBAB ORANG GELISAH

Sebab-sebab orang gelisah adalah karena pada hakekatnya orang takut kehilangan hak-haknya. Hal itu adalah akibat dari suatu ancaman, baik ancaman dari luar maupun dari dalam.

C. USAHA-USAHA MENGATASI KEGELISAHAN

Mengatasi kegelisahan ini pertama-tama harus mulai dari diri kita sendiri, yaitu kita harus bersikap tenang. Dengan sikap tenang kita dapat berpikir tenang, sehingga segala kesulitan dapat kita atasi.

D. KETERASINGAN

Keterasingan berasal dari kata terasing, dan kata itu adalah dasar dari kata asing.kata asing berarti sendiri, tidak dikenal orang, sehingga kata terasing berarti, tersisihkan dari pergaulan, terpindahkan dari yang lain, atau terpencil

E. KESEPIAN

Kesepian berasal dari kata sepi yang berarti sunyi atau lengang, sehingga kata kesepian berarti merasa sunyi atau lengang, tidak berteman.

F.KETIDAKPASTIAN

Ketidakpastian berasal dari kata tidak pasti artinya tidak menentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, tanpa arah yang jelas, tanpa asal-usul yang jelas. Ketidakpastian artinya keadaan yang tidak pasti, tidak tentu, tidak dapat ditentukan, tidak tahu, keadaan tanpa arah yang jelas, keadaan tanpa asal-usul yang jelas.

G. SEBAB-SEBAB TERJADI KETIDAKPASTIAN

1. Obsesi

Obsesi merupakan gejala neurosa jiwa, yaitu adanya pikiran atau perasaan tertentu yang terus menerus, biasanya tentang hal-hal yang tak menyenangkan, atau sebab-sebabnya tak diketahui oleh penderita.

2. Phobia

Ialah rasa ketakutan yang tak terkendali, tidak normal, kepada sesuatu  hal atau kejadian tanpa diketahui sebab-sebabnya.

3. Kompulasi

Ialah adanya keraguan tentang apa yang telah dikerjakan, sehingga ada dorongan yang tak disadari melakukan perbuatan yang serupa berkali-kali

4.Histeria

Ialah neurosa jiwa yang disebabkan oleh tekanan mental, kekecewaan, pengalaman pahit yang menekan, kelemahan syaraf, tidak mampu menguasai diri, sugesti dari sikap orang lain.

5. Delusi

Menunjukkan pikiran yang tidak beres, karena berdasarkan suatu keyakinan palsu.

Delusi persekusi          : menganggap keadaan sekitarnya jelek.

Delusi keagungan       : menganggap dirinya orang penting dan

besar.

Delusi melancholis     : merasa dirinya hina, bersalah, dan berdosa.

6. Halusinasi

Khayalan yang terjadi tanpa rangsangan panca indra.

7. Keadaan emosi

Suatu keadaan yang sangat berpengaruh oleh emosinya, sehingga tampak pada keseluruhan pribadinya.

Untuk dapat menyembuhkan keadaan ini tergantung kepada mental Si Penderita. Andaikata penyebabnya sudah diketahui, kemungkinan juga tidak dapat sembuh. Bila hal itu terjadi, maka jalan yang paling baik penderita ialah diajak atau pergi sendiri ke psikolog.

BAB 11. MANUSIA DAN HARAPAN

A. PENGERTIAN HARAPAN

  1. Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu terjadi.
  2. Arti harapan adalah sesuatu yang diinginkan dapat terjadi dengan demikian harapan itu menyangkut masa depan.

Antara harapan dan cita-cita terdapat persamaan yaitu :

1. Keduanya menyangkut masa depan karena belum

terwujud.

2. Pada umumnya dengan cita-cita maupun harapan

orang menginginkan hal yang lebih baik atau

meningkat.

B.  APA SEBAB MANUSIA MEMPUNYAI HARAPAN ?

Manusia setiap lahir ke dunia langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup ditengah suatu keluarga atau anggota mayarakat lainnya.

Dorongan kodrat

Kodrat ialah sifat atau keadaan atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri manusia sejak manusia diciptakan Tuhan.

Misalnya: menangis, bergembira, berpikir, berjalan, berkata, mempunyai keturunan

dan sebagainya

DORONGAN KEBUTUHAN HIDUP

Kebutuhan manusia terdiri dari :

  • Kebutuhan jasmani adalah kebutuhan yang kita butuhkan dalam keseharian kita.

Misalnya: makan, minum, pakaian, rumah dan lain-lain.

Kebutuhan Rohani:

Adalah kebutuhan batin manusia yang hanya dapat dipenuhi. Misalnya agama, ketenangan jiwa

Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau kebutuhan manusia itu adalah:

a) Kelangsungan hidup (survival)

b) Keamanan (safety)

c) Hak dan kewajiban mencintai dan

dicintai (be loving and love)

d) Diakui lingkungan (status)

e) Perwujudan cita-cita (self actualization)

Kelangsungan Hidup

Setiap manusia yang baru lahir telah mengharapkan makan dan minum.

Manusia memiliki tiga kebutuhan pokok yaitu:

  1. Sandang adalah kebutuhan manusia yang berguna untuk melindungi dirinya seperti pakaian, dan lainnya.

b. Pangan adalah kebutuhan manusia meliputi kebutuhan sehari-hari seperti makan minum dan sebagainya.

c. Papan adalah kebutuhan hidup manusia untuk berlindung setiap harinya contohnya rumah.

KEAMANAN

Setiap orang membutuhkan keamanan, karena rasa aman tidak harus diwujudkan dengan perlindungan. Rasa aman dapat diwujudkan oleh AGAMA karena itu merupakan benteng manusia dalam menjalani hidup.

HAK DAN KEWAJIBAN MENCINTAI DAN DICINTAI

Bila sudah pada saatnya manusia pasti ingin mengerti maksud dicintai dan mencintai, biasanya ini terjadi pada anak menginjak usia remaja.

STATUS

Status adalah harga diri yang dimiliki oleh setiap orang yang telah melekat pada dirinya.

Contohnya: bila ada orang yang berprestasi maka orang itu mempunyai status lebih tinggi dari orang sekitarnya.

PERWUJUDAN CITA-CITA

Setiap manusia sesuai dengan keahliannya mewujudkan cita-citanya yang juga dapat mengembangkan bakat atau kepandaian.

C. KEPERCAYAAN

Kepercayaan berasal dari kata percaya, yang artinya mengakui atau meyakini akan kebenaran.

Contohnya : kepercayaan terhadap tugas yang dibebankan kepada seseorang.

Kebenaran menurut Dr.Yuyun Sumantri dalam bukunya Filsafat Ilmu :

1. Teori atau teori konsistensi

Yaitu suatu pernyataan yang dianggap benar bila pernyataan itu bersifat koherensi atau konsisten

2. Teori korespondensi
Yaitu suatu teori yang menjalankan  bahwa       suatu pernyataan benar dan juga berhubungan dengan obyek yang dituju

3. Teori Pragmatis

Yaitu kebenaran yang diukur dengan kriteria  apakah peryataan tersebut bersifat fungsional dalam kehidupan praktis.

D.BERBAGAI KEPERCAYAAN DAN USAHA MENINGKATKANNYA

Dasar dari semua ini adalah kebenaran.

Kepercayaan dapat di bedakan menjadi:

  1. Kepercayaan kepada diri sendiri

Ini ditanamkan pada diri manusia yang memang harus di teguhkan di hati.

2.  Kepercayaan kepada orang lain

Ini merupakan kepercayaan terhadap   saudara atau orang di sekitar kita.

3. Kepercayaan kepada pemerintah

Pandangan demokratis adalah KEDAULATAN DITANGAN RAKYAT.

Negara yang hanya sebagai keutuhan totalitas yang ada disebut negara totaliter.

negara yang masyarakatnya tidak mempunyai hak disebut negara diktaktor.

4. Kepercayaan kepada Tuhan

Kepercayaan ini amat penting karena merupakan tali penghubung yang mengalirkan daya kekuatannya.

Usaha manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, yaitu:

  1. Meningkatkan ketaqwaan kita dengan jalan meningkatkan ibadah.
  2. Meningkatkan pengabdian kita kepada masyarakat.
  3. Meningkatkan kecintaan kepada sesama manusia dengan jalan suka menolong, dermawan dan sebagainya.
  4. Mengurangi nafsu untuk mengumpulkan harta yang berlebihan.
  5. Menekan perasaan negatif seperti iri, dengki fitnah, dan sebagainya.
Posted in Uncategorized | Leave a comment

MATERI IBD 1-7

TINJAUAN TENTANG IBD

 

Mata kuliah IBD, adalah salah satu mata kuliah yang membicarakan mengenai :

-          Nilai-nilai kehidupan / norma-norma.

-           Kebudayaan.

-          Berbagai macam masalah yang dihadapi manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah mendapatkan mata kuliah  IBD Mahasiswa diharapkan  dapat memperlihatkan :

-          Minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi disekitarnya dan diluar lingkungannya.

-          Kesadaran akan pola-pola nilai yang dianutnya serta bagaimana hubungan nilai-nilai ini dengan cara hidupnya sehari-hari.

-          Kerelaan memikirkan kembali dengan hati terbuka nilai-nilai yang dianutnya untuk mengetahui apakah dia secara berdiri sendiri membenarkan nilai-nilai tersebut untuk dirinya sendiri.

Latar belakang IBD dalam konteks budaya dan masyarakat Indonesia berkaitan dengan permasalahan sebagai berikut:

-          Kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa dengan segala keaneka- ragaman dan tidak bisa lepas dari ikatan-ikatan primordial, kesukuan dan kedaerahan.

-          Proses pembangunan yang sedang berlangsung menimbulkan perubahan dan pergeseran sistem nilai budaya sehingga mental manusiapun terkena pengaruhnya.

IBD Sebagai Bagian Darimata Kuliah Dasar Umum
Secara khusus MKDU bertujuan untk menghasilkan warga negara sarjana yang berkualitas sebagai berikut :

-          Berjiwa Pancasila sehingga segala keputusan serta tindakannya mencerminkan pengalaman nilai-nilai Pancasila dan memiliki integritas kepribadian yang tinggi, yang mendahulukan kepentingan nasional dan kemanusiaan sebagai sarjana Indonesia.

-          Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bersikap dan bertindak sesuai dengan ajaran agamanya, dan memiliki tenggang rasa terhadap pemeluk agama lain.

 

Pengertian Ilmu Budaya Dasar :

Ilmu Budaya Dasar adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep–konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah–masalah manusia dan kebudayaan.

Menurut Prof. Dr. Harsya Bachtiar mengemukan bahwa Ilmu Pengetahuan dikelompokan dalam tiga kelompok besar :

1.            Ilmu–ilmu Alamiah (Natural Science): bertujuan mengetahui keteraturan-keteraturan yang terdapat di alam semesta. Kajian menggunakan metode ilmiah, dapat 100% benar dan 100% salah. Contoh: Astronomi, Fisika, Kimia, Biologi, Kedokteran dan Mekanika.

2. Ilmu-ilmu Sosial (Social Science): bertujuan untuk mengkaji keteraturan-keteraturan yang terdapat dalam hubungan antar manusia. Kajian menggunakan metode ilmiah, hasilnya tidak mungkin 100% benar, hanya mendekati kebenaran. Contoh: Ilmu Ekonomi, Sosiologi, Politik, Demografi, Psikologi, Antropolgi Sosial, Sosiologi Hukum, dan sebagainya.

3.            Pengetahuan Budaya (The Humanities): bertujuan untuk memamhami dan mencari arti kenyataan-kenyataan yang bersifat manusiawi. Metode pengungkapan peristiwa-peristiwa dan pernyataan-pernyataan yang bersifat unik, kemudian diberi arti.

 

Tujuan Ilmu Budaya Dasar :

-          Mengusahakan kepekaan mahasiswa terhadap lingkungan budaya, sehingga mereka lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru, terutama untuk kepentingan profesi mereka;.

-          Memberi kesempatan pada mahasiswa untuk memperluas pandangan mereka tentang masalah kemanusiaan dan budaya serta mengembangkan daya kritis mereka terhadap persoalan–persoalan  yang menyangkut kedua hal tersebut.

-          Mengusahakan agar mahasiswa, sebagai calon pemimpin bangsa dan negara serta ahli dalam bidang disiplin masing–masing, tidak jatuh kedalam sifat–sifat kedaerahan dan pengkotakan disiplin yang ketat.

 

 

Ruang Lingkup Ilmu Budaya Dasar :

 

Dua Masalah Pokok Ialah :

-          Berbagai aspek kehidupan yang seluruhnya merupakan ungkapan masalah kemanusiaan dan budaya yang dapat didekati dengan menggunakan pengetahuan budaya;

-          Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing zaman dan tempat.

Pokok bahasan yang akan dikembangkan adalah :

-          Manusia dan Cinta Kasih;  Manusia dan Keindahan;

-          Manusia dan Penderitaan; Manusia dan Keadilan;

-          Manusia dan Pandangan Hidup; Manusia dan Tanggungjawab;

-          Manusia dan Kegelisahan; Manusia dan Harapan.

 

 

 

 

MANUSIA & KEBUDAYAAN

Dua pandangan yang dijadikan acuan untuk menjelaskan unsur–unsur yang membangun manusia

Manusia terdiri dari 4 unsur :

-          Jasad : badan kasar manusia yang nampak pada luarnya, dapat diraba dan difoto, dan menempati ruang dan waktu.

-          Hayat : mengandung unsur hidup yang ditandai dengan gerak.

-          Ruh : bimbingan dan pimpinan Tuhan, daya yang bekerja secara spiritual dan memahami kebenaran.

-          Nafs : dalam pengertian diri atau keakuan, yaitu kesadaran tentang diri sendiri.

 

Manusia Sebagai Satu Kepribadian  Mengandung Tiga Unsur :

-          ID, yang merupakan kepribadian yang paling primitif dan paling tidak Nampak. ID merupakan libido murni.

-          EGO, merupakan bagian satu struktur kepribadian yang pertama kali dibedakan dari ID. Sebagai kepribadian eksekutif karena peranannya dalam menghubungkan energi ID dalam saluran sosial yang dapat dimengerti orang lain.

-          SUPER EGO, merupakan struktur kepribadian yang paling akhir. Muncul kira-kira umur 5 tahun. ID dan EGO berkembang secara internal dalam diri individu. SUPER EGO terbentuk dari lingkungan eksternal.  SUPER EGO merupakan kesatuan standar-standar moral.

HAKEKAT MANUSIA

1.   Makhluk ciptaan Tuhan yang terdiri dari tubuh dan jiwa sebagai satu kesatuan yang utuh.

2.   Makhluk ciptaan Tuhan yan sempurna, jika dibandingkan dengan mahluk  lainnya, misalnya:

- Perasaan Intelektual.          – Perasaan Estetis             - Perasaan Etis

- Perasaan Diri                       - Perasaan Sosial               - Perasaan Religius

3.   Makhluk biokultural, yaitu mahluk hayati yang budayawi.

4.   Makhluk ciptaan Tuhan yang terikat dengan lingkungan (ekologi), mempunyai kualitas dan martabat karena kemampuan bekerja dan berkarya.

Pengertian Kebudayaan

-          Menurut E.B. Taylor (1871); Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan– kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat;

-          Menurut Selo Sumarjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat;

-          Menurut Sutan Takdir Alisyahbana; Kebudayaan adalah manifestasi dari cara berpikir.

 

Pengertian Kebudayaan

-          Menurut C.A. Van Peursen mengatakan bahwa dewasa ini kebudayaan diartikan sebagai manifestasi kehidupan setiap orang, dan kehidupan setiap kelompok orang-orang berlainan dengan hewan-hewan, maka manusia tidak hidup begitu saja ditengah alam, melainkan selalu mengubah alam;

-          Krober dan Kluckhon mendefinisikan kebudayaan terdiri atas berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh simbol-simbol yang menyusun pencapaiannya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia, termasuk di dalamnya perwujudan benda-benda materi.

Unsur- Unsur Kebudayaan

-          Menurut Bronislaw  Malinowski unsur kebudayaan terdiri dari sistem norma, organisasi ekonomi, alat-alat atau lembaga ataupun petugas pendidikan dan organisasi kekuatan;

-          Menurut C. Kluckhon ada tujuh unsur kebudayaan universal yaitu :

1. Sistem religi             2. Sistem organisasi kemasyarakatan           3. Sistem pengetahuan

4. Sistem mata pencaharian hidup dan sistem ekonomi

5. Sistem teknologi dan peralatan.        6. Bahasa                   7. Kesenian.

Wujud Kebudayaan

Menurut dimensi wujudnya, kebudayaan mempunyai tiga wujud yaitu :

-          Kompleks gagasan, konsep, dan pikiran manusia;

-          Kompleks aktivitas;

Wujud sebagai benda.

Orientasi Nilai Budaya

Kebudayaan sebagai karya manusia memiliki sistem nilai, menurut C. Kluckhon dalam karyanya variations in value orientation (1961) sistem nilai budaya dalam semua kebudayaan di dunia, secara universal menyangkut lima masalah pokok kehidupan manusia, yaitu:

    1. Hakekat hidup manusia: hakekat hidup untuk setiap kebudayaan berbeda secara ekstern. Ada yang berusaha untuk memadamkan hidup, ada pula dengan pola-pola kelakuan tertentu.
    2. Hakekat karya manusia: setiap kebudayaan hakekatnya berbeda-beda, untuk hidup, kedudukan/kehormatan, gerak hidup untuk menambah karya.

 

Perubahan Kebudayaan

Terjadinya gerak perubahan kebudayaan ini disebabkan oleh :

-          Sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan kebudayaan sendiri misalnya: perubahan jumlah dan komposisi penduduk;

-          Sebab-sebab perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup

 

Berbagai Faktor Yang Mempengaruhi Diterima Atau Tidaknya Suatu Unsur Kebudayaan Baru, Diantaranya :

-          Terbatasnya masyarakat memiliki hubungan atau kontak dengan kebudayaan dan dengan orang-orang yang berasal dari luar masyarakat tersebut.

-          Pandangan  hidup dan nilai-nilai yang dominan dalam suatu kebudayaan ditentukan oleh nilai-nilai agama.

-          Corak struktur sosial suatu masyarakat turut menentukan proses penerimaan kebudayaan baru.

Kaitan Manusia Dan Kebudayaan

Secara sederhana hubungan antara manusia dan kebudayaan adalah manusia sebagai perilaku kebudayaan dan kebudayaan merupakan obyek yang dilaksanakan manusia dari sisi lain hubungan antara manusia dan kebudayaan ini  dapat dipandang setara dengan hubungan antara manusia dan masyarakat dinyatakan sebagai dialektis. Proses dialektis ini tercipta melalui tiga tahap yaitu :

-          Eksternalisasi, proses dimana manusia mengekspresikan dirinya dengan membangun dunianya.

-          Obyektivasi, proses dimana masyarakat menjadi realitas obyektif, yaitu suatu kenyataan yang terpisah dari manusia dan berhadapan dengan manusia.

-          Internalisasi, proses dimana masyarakat disergap kembali oleh manusia. Maksudnya bahwa manusia mempelajari kembali masyarakatnya sendiri agar dia dapat hidup dengan baik.

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3
KONSEPSI ILMU BUDAYA DASAR DALAM KESUSASTERAAN

A. Pendekatan Kesusasteraan

IBD yang semula dinamakan Basic Humanities, berasal dari bahasa Inggris The Humanities. Istilah berasal dari bahasa Latin Humanus, yang berarti manusiawi, berbudaya, dan halus. Dengan mempelajari The Humanities orang akan menjadi lebih manusiawi, berbudaya, dan halus.

Sastra lebih mudah berkomunikasi, karena pada hakekatnya karya sastra adalah penjabaran abstraksi. Sementara itu filsafat, yang juga menggunakan bahasa, adalah abstraksi. Cinta kasih, kebahagiaan, kebebasan dan lainnya yang digarap oleh filsafat adalah abstrak. Sifat abstrak inilah yang menyebabkan filsafat kurang berkomunikasi.

 

B. Ilmu Budaya Dasar Yang Dihubungkan Dengan Prosa

Istilah prosa banyak padanannya. Kadang-kadang disebut narrative fiction, prose fiction atau hanya fiction saja. Dalam bahasa Indonesia istilah tadi sering diterjemahkan menjadi cerita rekaan dan didefinisikan sebagai bentuk cerita atau prosa kisahan yang mempunyai pemeran, lakuan, peristiwa dan alur yang dihasilkan oleh daya khayal atau imajinasi. Istilah cerita rekaan umumnya dipakai untuk roman, atau novel, atau cerita pendek.

Dalam kesusasteraan Indonesia kita mengenal jenis Prosa Lama dan Prosa Baru.

o Prosa Lama meliputi :

1. Dongeng.

2. Hikayat.

3. Sejarah.

4. Epos.

5. Cerita Pelipur Lara.

o Prosa Baru meliputi :

1. Cerpen.

2. Novel.

3. Biografi.

4. Kisah

5. Otobiografi.

 

C. Nilai-nilai dalam prosa fiksi

Adapun nilai-nilai yang diperoleh pembaca lewat sastra antara lain  :

1. Prosa fiksi memberikan kesenangan

Keistimewaan kesenangan yang diperoleh dari membaca fiksi adalah pembaca mendapatkan pengalaman sebagaimana mengalami sendiri              peristiwa tersebut.

2. Prosa fiksi memberikan informasi

Fiksi memberikan sejenis informasi yang tidak terdapat di dalam ensiklopedi.

3. Prosa fiksi memberikan warisan kultural

Prosa fiksi dapat menstimuli imaginasi, dan merupakan sarana bagi pemindahan yang tak henti-hentinya dan warisan budaya bangsa.

4. Prosa memberikan keseimbangan wawasan

Lewat prosa fiksi seseorang dapat menilai kehidupan berdasarkan pengalaman-pengalaman dengan banyak individu.

D. Ilmu Budaya Dasar Yang Dihubungkan Dengan Puisi

Puisi termasuk seni sastra, sedangkan sastra bagian dari keseniaan, dan keseniaan cabang/unsur dari kebudayaan. Kalau diberi batasan, maka: Puisi adalah ekspresi pengalaman jiwa penyair mengenai kehidupan manusia, alam dan Tuhan melalui media bahasa yang artistik/estetik yang secara padu dan utuh dipadatkan kata-katanya.

Kepuitisan, keartistikan atau keestetikaan bahasa puisi disebabkan oleh kreatifitas penyair dalam membangun puisinya dengan menggunakan :

1.            Figura bahasa seperti gaya personifikasi (penjelmaan), metafora (kiasan),  perbandingan, alegori (kiasaan), sehingga puisi menjadi segar dan menarik.

2.            Kata-kata yang ambiquitas , yaitu kata-kata yang bermakna ganda.

3.            Kata-kata yang berjiwa yaitu kata-kata yang sudah diberi suasana tertentu, berisi   perasaan dan pengalaman jiwa penyair sehingga terasa hidup.

4.            Kata-kata yang konotatif yaitu kata-kata yang sudah diberi tambahan  nilai-nilai  rasa dan asosiasi-asosiasi tertentu.

 

Berkenaan dengan moral, karya sastra dapat dibagi menjadi dua:

1.            Karya sastra yang menyuarakan aspirasi zamannya mengajak pembaca untuk mengikuti apa yang dikehendaki zamannya. Kebanyakan karya sastra Indonesia di zaman Jepang yang dikelompokkan ke dalam kelompok ini.

2.            Karya sastra yang menyuarakan gejolak zamannya, biasanya tidak mengajak pembaca untuk melakukan sesuatu, akan tetapi untuk merenung.

 

Adapun alasan-alasan yang mendasari penyajian puisi pada perkuliahan Ilmu  Budaya Dasar  adalah sebagai berikut:

  1. Hubungan puisi dengan pengalaman hidup manusia;

Perekaman dan penyampaiaan pengalaman dalam sastra puisi disebut “pengalaman perwakilan”. Ini berarti bahwa manusia senantiasa ingin memiliki salah kebutuhan dasarnya untuk lebih menghidupkan pengalaman hidupnya dari sekedar kumpulan pengalaman langsung yang terbatas,. Dengan pengalaman perwakilan itu sastra/puisi dapat memberikan kepada para mahasiswa memiliki kesadaran (insight-wawasan) yang penting untuk dapat melihat dan mengerti banyak tentang dirinya sendiri tentang masyarakat. Pendekatan terhadap pengalaman perwakilan itu dapat dilakukan dengan suatu kemampuan yang disebut “imaginative entry”, yaitu kemampuan menghubungkan pengalaman hidup sendiri dengan pengalaman yang dituangkan penyair dalam puisinya.

  1. Puisi dan keinsyafan/kesadaran individual;

Dengan membaca puisi, mahasiswa dapat diajak untuk menjenguk hati/pikiran manusia, baik orang lain maupun diri sendiri, karena melalui puisinya sang penyair menunjukkan kepada pembaca bagian dalam hati manusia, ia menjelaskan pengalaman setiap orang

  1. Puisi dan keinsyafan sosial.

Puisi juga memberikan kepada manusia tentang pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial yang terlibat dalam isue dan problem sosial. Secara imajinatif puisi dapat menafsirkan situasi dasar manusia sosial yang bisa berupa:

o   Penderitaan atas ketidakadilan;

o   Perjuangan untuk kekuasaan;

o   Konflik dengan sesamanya;

o   Pemberontakan kepada hukum Tuhan

BAB 4
MANUSIA DAN CINTA KASIH

A. Pengertian Cinta Kasih

Menurut kamus umum bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminta

cinta adalah rasa sangat suka, sayang, ataupun sangat tertarik hatinya.

Pengertian  cinta menurut Dr. Abdullah Nasih Ulwan, dalam bukunya

manajemen cinta; Cinta  adalah perasaan jiwa dan gejolak hati yang

mendorong seseorang untuk mencintai kekasihnya dengan penuh gairah,

lembut, dan kasih sayang.

Cinta menurut Dr. Sarlito W. Sarwono memiliki tiga unsur, yaitu :

1. Keterikatan (Cinta Setia)

2. Keintiman (Cinta Saudara)

3. Kemesraan (Cinta Rayuan)

Cinta memiliki tiga tingkatan: tinggi (Allah dan Rasulnya dan berjihad di jalan Allah), menengah (orang tua, anak, saudara, istri/suami dan kerabat) dan rendah (keluarga, kerabat, harta dan tempat tinggal).

Tingkatan cinta tersebut di atas adalah berdasarkan firman Allah dalam surat At Taubah ayat 24 artinya sebagai berikut :

“katakanlah: jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai; adalah lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasulnya dan berjihad dijalanNya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusanNya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”..

 

Cinta tingkat rendah adalah cinta yang paling keji , hina dan merusak rasa kemanusiaan. Karena itu ia adalah cinta rendahan, bentuknya beraneka ragam

misalnya :

1. Cinta kepada thagut (syetan), selain Allah, dalam surat Al Baqarah: orang-

orang yang menyembah tandingan-tandingan Allah;

2. Cinta berdasarkan hawa nafsu;

3. Cinta lebih mengutamakan kecintaan kepada orang tua, anak, istri,

perniagaan dan tempat tinggal.

Hikmah cinta adalah sangat besar, hanya orang yang telah diberi kefahaman dan kecerdasan oleh Allah sajalah yang mampu merenungkannya. Diantara hikmah-hikmah tersebut adalah :

1. Sesungguhnya cinta itu adalah merupakan ujian yang berat dan pahit dalam

kehidupan manusia, karena setiap cinta mengalami berbagai macam rintangan;

2. Bahwa fenomena cinta yang telah melekat di dalam jiwa manusia merupakan

pendorong dan pembangkit yang paling besar di dalam melestarikan lingkungan;

3. Bahwa fenomena cinta merupakan faktor utama di dalam kelanjutan hidup

manusia;

4. Fenomena cinta, jika diperhatikan merupakan pengikat yang paling kuat di dalam

hubungan antar anggota keluarga, kerukunan bermasyarakat, mengasihi

sesama mahluk menegakkan keamanan, ketentraman dan keselamatan di segala

penjuru bumi.

 

 

B. Cinta Menurut Ajaran Agama

1. Cinta Diri (QS. Al Adiyat, 100:8, QS. Fushilat, 41:49).

2. Cinta Kepada Sesama Manusia

3. Cinta Seksual (QS. Ar Rum, 30:21)

4. Cinta Kebapakan (QS. Maryam, 19:4-6, QS. Yusuf 12:84,

QS. Hud, 11:45)

5. Cinta Kepada Allah (QS. Al Imran, 3:31)

6. Cinta Kepada Rasul.

C. Kasih Sayang

 

Dari cara pemberian cinta kasih ini dapat dibedakan:

1. Orang tua bersifat aktif, Si Anak bersifat pasif.

Dalam hal ini orang tua memberikan kasih sayang terhadap

anaknya baik berupa moral, materil dengan sebanyak-

banyaknya, dan Si Anak menerima saja.

 

2. Orang tua bersifat pasif, Si Anak bersifat aktif.

Dalam hal ini Si Anak memberikan kasih sayang kepada orang tuanya,

sedangkan orang tuanya tidak memberikan perhatian apa yang

diperbuat Si Anak.

3. Orang tua bersifat pasif, Si Anak bersifat pasif.

Masing-masing membawa hidupnya, tingkah lakunya sendiri tanpa

saling memperhatikan.

4. Orang tua bersifat aktif, Si Anak bersifat aktif.

Dalam hal ini orang tua dan anak saling memberikan kasih sayang

dengan sebanyak-banyaknya.

D. Kemesraan.

Kemesraan ialah hubungan yan akrab baik antara pria dan wanita yang

sedang dimabuk asmara maupun yang sudah berumah tangga.

Kemesraan pada dasarnya merupakan perwujudan kasih sayang yang

mendalam. Cinta yang berlanjut menimbulkan pengertian mesra atau

kemesraan. Kemesraan adalah perwujudan dari cinta. Kemesraan dapat

menimbulkan daya kreativitas  manusia. Dengan kemesraan orang dapat

menciptakan berbagai bentuk seni sesuai dengan kemampuan dan bakatnya

E. Pemujaan

Pemujaan adalah salah satu manifestasi cinta manusia kepada Tuhan

Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam bentuk komunikasi ritual.

Kecintaan manusia kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan

manusia. Hal ini ialah karena pemujaan kepada Tuhan adalah inti, nilai dan

makna kehidupan  yang sebenarnya. Dalam kehidupan manusia terdapat

berbagai cara pemujaan sesuai dengan agama masing-masing, kepercayaan,

kondisi, dan situasi.

F. Belas Kasihan

Dalam surat Yohanes dijelaskan ada 3 macam cinta :

1. Cinta Agape ialah  cinta manusia kepada Tuhan.

2. Cinta Philia ialah cinta kepada ibu, bapak, saudara dan yang ketiga

3. Cinta Amor ialah antara pria dan wanita.

Disamping itu ada cinta lagi, yaitu terhadap sesama yang merupakan

perpaduan antara cinta Agape  dan Philia. Jadi kata “Rahmah” bersimpati

kepada nasib keadaan yang diderita orang lain.

Dalam esai on love ada pengertian bahwa cinta adalah rasa persatuan

tanpa syarat. Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali yang harus kita

kasihani.

G. Cinta Kasih Erotis

Merupakan atraksi individualbelaka maupun pandangan bahwa cinta kasih erotis itu tidak lain adalah kemauan kedua nya,

 

BAB 5  MANUSIA DAN KEINDAHAN

 

A. KEINDAHAN

a. Apakah Keindahan Itu?

Kata keindahan berasal dari kata indah yang artinya bagus, cantik, elok,

molek, dan sebagainya. Keindahan adalah suatu konsep abstrak yang

tidak dapat dinikmati karena tidak jelas.

 

Perbedaan keindahan menurut luasnya pengertian yaitu:

  1. Keindahan dalam arti yang luas. Pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi keindahan seni, keindahan alam, keindahan moral, dan keindahan intelektual.
  2. Keindahan dalam arti estetis murni, menyangkut pengalaman estetis dari seseorang dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang diserapnya.
  3. Keindahan dalam arti terbatas, lebih disempitkan sehingga hanya menyangkut benda yang diserapnya dengan penglihatan.

B. Nilai Estetik

Nilai estetik adalah nilai suatu benda yang menyebabkan menarik minat seseorang atau suatu golongan.

. Nilai digolongkan menjadi:

-          Nilai ekstrinsik : sifat baik suatu benda sebagai alat untuk sesuatu hal

Lainnya.

-          Nilai intrinsik : sifat baik dari benda yang bersangkutan atau sebagai suatu

tujuan ataupun demi kepentingan benda itu sendiri .

C. Kontemplasi dan Ekstansi

Keindahan dapat dinikmati menurut selera seni dan selera biasa. Keindahan yang didasarkan pada selera seni didukung oleh faktor kontemplasi dan ekstansi.

Kontemplasi adalah: dasar dalam diri manusia untuk menciptakan sesuatu yang indah.

Ekstansi adalah: dasar dalam diri manusia untuk menyatakan, merasakan dan menikmati sesuatu yang indah.

Apabila kedua dasar tersebut dihubungkan dengan bentuk di luar diri manusia, maka akan terjadi penilaian bahwa sesuatu itu indah.

D. Apa Sebab Manusia Menciptakan Keindahan?

Alasan atau motivasi dan tujuan seniman menciptakan keindahan :

1.  Tata nilai yang telah usang

2.  Kemerosotan zaman

3.  Penderitaan manusia

4.  Keagungan Tuhan

E. Keindahan Menurut Pandangan Romantik

Dalam buku An Essay on Man (1954), Erns Cassirer mengatakan bahwa arti keindahan tidak bisa pernah selesai diperdebatkan. Meskipun kita menggunakan kata-kata penyair romantik John Keats (1795- 1821) sebagai pegangan.

B. RENUNGAN

Renungan berasal dari kata renung artinya diam-diam memikirkan

sesuatu dengan dalam-dalam.

Dalam merenung untuk menciptakan seni ada beberapa teori, yaitu  :

  1. Teori Pengungkapan.

Dalil teori ini adalah ‘art is an expression of human  feeling.

Tokoh: Benedeto Croce, Leo Tolstoi

  1. Teori Metafisik.

Orang yang menggunakan firasat sebagai dasar merenung. Tokohnya : Plato dan Arthur Schopenhauer (1788-1860)

  1. Teori Psikologis.

Penciptaan seni didasarkan pada kejiwaan. Suatu teori lain tentang sumber seni adalah teori permainan (dikembangkan oleh Freedrick Schiller 1757- 1805 dan Herbert  Spencer 1820 – 1903) dan teori penandaan.

C.  KESERASIAN

Keserasian berasal dari kata serasi dan dari kata rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran dan seimbang.

  1. Teori Objektif dan Teori Subjektif

The Liang Gie dalam bukunya garis besar estetika menjelaskan bahwa dalam menciptakan seni ada 2 teori yaitu :

1. Teori objektif berpendapat bahwa keindahan atau ciri-ciri yang mencipta nilai estetik adalah sifat (kualitas) yang memang benar melekat dalam bentuk indah yang bersangkutan, terlepas dari orang yang mengamatinya. Pendukung teori objektif adalah Plato, Hegel dan Bernard Bocanquat.

2. Teori subjektif menyatakan bahwa ciri-ciri yang menciptakan keindahan suatu benda itu tidak ada, yang ada hanya perasaan dalam diri seseorang yang mengamati sesuatu benda. Pendukung teori subjektif adalah Henry Home, Earlof Shaffesbury dan Edmund Burke.

b. Teori Perimbangan

Teori perimbangan tentang keindahan dari bangsa Yunani Kuno dahulu dipahami pula dalam arti yang lebih terbatas yakni secara kualitatif yang diungkapkan dengan angka-angka.

 

Bab 6 MANUSIA DAN PENDERITAAN

 

  1. A. Pengertian Penderitaan

Penderitaan berasal dari kata derita. Kata derita berasal  dari bahasa sansekerta dhra. Derita artinya menanggung atau merasakan sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin atau lahir batin.

  1. B. S I K S A A N

Siksaan dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani dan dapat juga berupa siksaan jiwa atau rohani.

Akibat  siksaan yang dialami seseorang, timbul lah penderitaan.Siksaan yang sifatnya psikis misalnya:

  1. a. Kebimbangan: dialami seseorang bila ia pada suatu saat tidak dapat menentukan pilihan yang akan diambil.

b.    Kesepian: dialami seseorang yang merasa kesepian walaupun berada di lingkungan ramai.

c.    Ketakutan: merupakan bentuk lain yang dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin.

Sebab Seseorang Merasa Ketakutan :

  1. Claustrophobia : takut terhadap ruangan tertutup
  2. Agorophobia : takut terhadap ruangan terbuka
  3. Gamang : takut berada di tempat ketinggian
  4. Kegelapan : takut bila berada di tempat gelap
  5. Kesakitan : takut yang disebabkan rasa sakit
  6. Kegagalan : takut akan mengalami kegagalan.

C.  KEKALUTAN MENTAL

Kekalutan mental adalah gangguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang menghadapi persoalan  yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan  bertingkah kurang wajar.

Gejala-gejala permulaan seseorang mengalami kekalutan mental :

  1. Nampak pada jasmani : merasakan pusing, sesak napas, demam, nyeri pada lambung
  2. Nampak pada kejiwaan : rasa cemas, ketakutan patah hati, apatis, cemburu, mudah marah

Tahapan-tahapan gangguan kejiwaan adalah :

  1. Gangguan kejiwaan nampak dalam gejala-gejala kehidupan Si Penderita baik jasmi maupun rohani
  1. Usaha mempertahankan diri dengan cara negative

 

Sebab-sebab timbulnya kekalutan mental :

a. Kepribadian yang lemah akibat kondisi jasmani atau mental yang kurang sempurna

b. Terjadinya konflik sosial budaya akibat norma, berbeda antara yang bersangkutan dengan apa yang ada dalam masyarakat sehingga ia tidak dapat menyesuaikan diri lagi

Proses-proses kekalutan mental yang dialami seseorang mendorongnya ke arah :

  1. Positif : trauma (luka jiwa), survive dalam hidup;
  1. b. Negatif : trauma diperlarutkan atau diperturutkan akhirnya frustasi

BENTUK-BENTUK FRUSTASI

  1. Agresi : kemarahan yang meluap-luap akibat emosi tidak terkendali;
  2. Regresi : kembali pada pola reaksi primitif atau kekanak-kanakan;
  3. Fiksasi : pembatasan pada satu pola yang sama;
  4. Proyeksi : memproyeksikan kelemahan dan sikap-sikap sendiri yang negatif pada orang lain;
  5. Identifikasi : menyamakan diri dengan seseorang yang sukses  dalam imajinasinya;
  6. Narsisme : merasa dirinya lebih superior daripada orang lain
  7. Autisme : gejala menutup diri secara total dari dunia riil, puas dengan fantasinya sendiri.

 

Penderita kekalutan mental banyak terdapat dalam lingkungan seperti :

  1. Kota-kota besar : yang memberikan tantangan hidup yang berat, sehingga mereka dikejar-kejar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya;
  2. Anak-anak muda usia : yang tidak berhasil dalam mencapai apa yang dikehendaki atau di idam-idamkan, karena tidak berimbangnya kemampuan dan tujuannya;
  3. Wanita : pada umumnya lebih mudah merasakan suatu masalah yang dipendam ke dalam hati atau perasaannya, tetapi sulit mengeluarkan perasaannya tersebut, mereka memiliki kondisi tubuh yang lemah;

 

  1. C. PENDERITAAN DAN PERJUANGAN

Penderitaan dikatakan sebagai kodrat manusia, artinya sudah menjadi konsekuensi manusia hidup bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya untuk bahagia melainkan juga menderita. Karena itu manusia hidup tidak boleh pesimis yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan. Manusia harus optimis, ia harus berusaha mengatasi kesulitan hidup.

F. PENDERITAAN DAN SEBAB-SEBABNYA

Berdasarkan sebab timbulnya penderitaan, maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut :

A)   Penderitaan yang timbul karena perbuatan buruk manusia :

- Perbuatan semena-mena kepada pembantu rumah tangga

- Perbuatan buruk orang tua yang menganiaya anak

- Perbuatan buruk para pejabat zaman orde lama

- Perbuatan buruk manusia terhadap lingkungan : banjir dan tanah longsor, perbuatan lalai : gas beracun.

B)   Penderitaan yang timbul karena penyakit, siksaan/azab Tuhan

- Seorang anak lelaki buta sejak dilahirkan;

- Nabi Ayub mengalami siksaan Tuhan, tetapi dengan sabar menerima cobaan ini;

- Tenggelamnya Fir’aun di laut Merah.

G. PENGARUH PENDERITAAN

Sikap yang timbul pada orang yang mengalami penderitaan berupa sikap positif ataupun sikap negatif.  Contoh sikap negatif yaitu penyesalan karena tidak bahagia, sikap kecewa, putus asa, ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap negatif ini dapat timbul sikap anti, misalkan tidak mau kawin, tidak punya gairah hidup.

 

Bab 7  MANUSIA DAN KEADILAN

A.        PENGERTIAN KEADILAN

 

Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrim yang terlalu banyak terlalu sedikit. Beberapa para pemikir yang mendefinisikan keadilan adalah :

  1. Plato, keadilan diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang dapat mengendalikan diri, dan perasaannya dikendalikan oleh akal.
  2. Socrates, memproyeksikan keadilan pada pemerintahan.

Kong Hu Chu, keadilan terjadi apabila anak sebagai anak,ayah sebagai ayah, dan raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakkan kewajibannya.

KEADILAN SOSIAL

Berbicara tentang keadilan kita akan ingat dasar Negara kita yaitu Pancasila sila kelima yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” hal ini mengandung pengertian tidak ada kemiskinan dalam  Indonesia merdeka.

Bung Hatta dalam uraiannya mengenaai sila kelima Pancasila menulis bahwa keadilan sosial adalah langkah yang menentukan untuk melaksanakan Indonesia yang adil dan makmur. Selanjutnya untuk mewujudkan keadilan sosial itu diperinci perbuatan dan sikap yang perlu dipupuk yaitu :

a. perbuatan luhur ynag mencerminkkan sikap dan suasana  kekeluargaan

b. sikap adil terhadap sesama

c. sikap suka memmberi pertolongan terhadap yang membutuhkan

d. sikap suka bekerja keras

e. sikap menghargai hasil karya orang lain

Asas terciptanya keadilan sosial dituangkan dalam berbagai langkah melalui 8 jalur pemerataan yaitu :

  1. pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok
  2. pemerataan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan
  3. pemerataan pembagian pendapatan
  4. pemerataan kesempatan kerja
  5. pemerataan kesempatan berusaha
  6. pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan
  7. pemerataan penyebaran pembangunan
  1. 8. pemerataan memperoleh keadilan

 

C.Berbagai macam keadilan

1. Keadilan legal atau keadilan moral

Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakkan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjaga kesatuannya. Dalam suatu masyarakat yang adil setiap orangg menjalankan pekerjaan yang menurut sifat dasarnya paling cocok baginya (The man behind the gun). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral sedang Sunoto menyebutnya keadilan legal.

2.  Keadilan distributive

Aristoteles berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bila hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan yang tidak sama secara tidak sama (Justice is done when equals are treated equally). Pendapat Aristoteles ini disebut keadilan distributive.

3.  Keadilan komutatif

Keadilan ini bertujuan  memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum. Bagi Aristoteles pengertian keadilan itu merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang menjadikan ujung ekstrim meenjadikan ketidakadilan dan akan merusak bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.

 

D.Kejujuran

Kejujuran atau jujur artinya apa yang dikatakan oleh seseorang sesuai dengan hati nuraninya dan apa yang dikatakan sesuai dengan knyataan yang ada. yang Jujur juga berarti hati seseorang bersih dari perbuatan yang dilarang oleh agama. Barang siapa berkata jujur serta bertindak sesuai dengan kenyataan,artinya orang itu berbuat benar. Orang bodoh yang jujur akan lebih baik daripada orang pandai tapi pendusta. Barang siapa yang tidak dapat dipercaya tutur katanya maka dia termasuk kedalam golongan munafik. Pada hakekatnya jujur atau kejujuran dilandasi oleh kesadaran moral tinggi, kesadaran pengakuan akan adanya kesamaan hak dan kewajiban. Serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.

 

E. KECURANGAN

Kecurangan artinya apa yang diinginkan tidak sesuai dengan hati nurani. Orang yang sudah berbuat curang dengan maksud memperoleh keuntungan atau materi. Bagi orang yang berbuat curang akan mendatangkan kesenangan bagi dirinya meskipun orang lain menderita

Ada banyak faktor mengapa banyak orang yang melakukan kecurangan diantaranya :

  1. Faktor Ekonomi
  2. Faktor Kebudayaan
  3. Faktor Peradaban
  4. Faktor Teknik

Pujawiyatno dalam bukunya “Filsafat Sana-Seni” menjelaskan bahwa perbuatan yang sejenis adalah perbuatan yang buruk. Dalam bahasa Jawa ada ungkapan “Becik ketitik ala ketara” yang artinya yang baik akan nampak yang buruk juga akan nyata.

F.       PEMULIHAN NAMA BAIK

Nama baik merupakan tujuan utama orang hidup. Nama baik adalah nama yang tidak tercela. Setiap orang menjaga dengan hati-hati agar namanya tidak tercemar. Penjagaan nama baik erat hubungannya dengan tingkah laku atau perbuatan.

Tingkah laku atau perbuatan yang baik dengan nama baik itu pada hakekatnya sesuai dengan kodrat manusia, yaitu :

  1. a. Manusia menurut sifat dasarnya adalah makhluk bermoral
  2. b. Ada aturan-aturan yang berdiri sendiri yang harus dipatuhi untuk mewujudkan dirinya sendiri sebagai pelaku moral.

 

  1. PEMBALASAN

Pembalasan ialah suatu reaksi atas perbuatan orang lain. Reaksi itu dapat berupa perbuatan serupa, perbuatan yang imbang. Sebagai contoh, A memberikan makanan kepada B. Dilain kesempatan B memberikan minuman kepada A. Perbuatan ini merupakan perbuatan serupa dan ini merupakan perbuatan pembalasan.

Pembalasan disebabkan oleh adanya pergaulan. Pergaulan yang bersahabat mendapat balasan yang bersahabat. Sebalik pergaulan yang penuh kecurigaan menimbulkan balasan yang tidak bersahabat pula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

PERANAN BUDAYA DAERAH MEMPERKOKOH KETAHANAN BUDAYA NASIONAL

MAKALAH ILMU BUDAYA DASAR

PERANAN BUDAYA DAERAH MEMPERKOKOH KETAHANAN BUDAYA NASIONAL

Disusun oleh :

NAMA             :Jaka Roni

KELAS              : 1ID 05

NPM                : 33410706

 

 

 

UNIVERSITAS GUNADARMA

Jalan KH.Noer Ali Kalimalang

Bekasi 17145 Telp. (021)88860117

 

Mata Kuliah : Ilmu Budaya Dasar

Dosen :Muhammad Burhan Amin

Topik Makalah : Peranan Budaya Daerah Memperkokoh Ketahanan Budaya Nasional

Kelas : 1-ID 05

Dateline Makalah : 10 Januari 2011

Tanggal Penyerahan atau upload makalah : 09 Januari 2011

P E R N Y A T A AN

Dengan ini saya menyatakan bahwa seluruh pekerjaan dalam tugas ini, saya buat sendiri tanpa meniru atau mengutip dari tim/ pihak lain.

Apabila terbukti benar,saya siap menerima konsekuensi untuk mendapat nilai 1/100 untuk mata kuliah ini.

PENYUSUN

NAMA             :Jaka Roni

KELAS              : 1ID 05

NPM                : 33410706

 

Program Sarjana Teknik Industri

UNIVERSITAS GUNADARMA

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa ,karena dengan karunia nya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini.Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk menambah pengetahuan kepada pembaca tentang Peranan Budaya Daerah Memperkokoh Ketahanan Budaya Nasional.

Makalah ini berisi informasi tentang Peranan Budaya Daerah Memperkokoh Ketahanan Budaya Nasional,yang kami harapkan dapat memberikan informasi kepada para pembaca.

Terima kasih yang sebesar besar nya kami sampaikan kepada :

  1. Bapak Muhammad Burhan Amin selaku dosen mata kuliah Ilmu Budaya Dasar yang telah membimbing kami selama proses penusunan makalah ini.
  2. Teman teman terutama kelas 1 ID 05 atas kerja sama dan sumbangsinya kepada kami.
  3. Seluruh pihak yang berpartisipasi selama penyusunan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna,oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir.Semoga Tuhan meridhoi segala uusaha kita.Amin

 

Hormat Kami

 

Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

 

 

Pernyataan……………………………………………………………………………………………………………………..i

Kata Pengantar……………………………………………………………………………………………………………….ii

Daftar Isi…………………………………………………………………………………………………………………………iii

Bab 1

Pendahuluan…………………………………………………………………………………………………………………..1

1.Latar Belakang…………………………………………………………………………………………………………….1

2.Tujuan………………………………………………………………………………………………………………………….2

3.Sasaran………………………………………………………………………………………………………………………..2

Bab 2 Permasalahan……………………………………………………………………………………………………….3

1.Kekuatan……………………………………………………………………………………………………………………..3-4

2.Kelemahan…………………………………………………………………………………………………………………..4

3.Peluang………………………………………………………………………………………………………………………..4

4.Tantangan/Hambatan………………………………………………………………………………………………….5

Bab 3 Kesimpulan dan Rekomendasi………………………………………………………………………………6

1.Kesimpulan………………………………………………………………………………………………………………….6

2.Rekomendasi………………………………………………………………………………………………………………6

3.Referensi………………………………………………………………………………………………………………….…7

 

 

BAB 1 PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Banyaknya persoalan latar belakang pembuatan makalah yang berjudul Peran Budaya Daerah Memperkokoh Ketahanan Budaya Nasional ini adalah di tunjang bahwa Di era globalisasi seperti saat ini, kebudayaan yang di miliki Indonesia sudah sangat beraneka ragam yang perlu kita jaga dan lestarikan Indonesia merupakan negara atau bangsa yang kaya akan seni dan budaya, khususnya seni dan budaya yang bersifat tradisional. Maka tidak menutup kemungkinan pentingnya peranan budaya lokal terhadap bangsa lain yang mempengaruhi citra dan pandangan yang positif dari bangsa Indonesia

Apabila kebudayaan yang ada di indonesi dapat mentransformasi diri sebagai milik bersama dan kebanggaan bersama yang dipangku oleh suatu masyarakat daerah, maka kebudayaan akan dapat berperan untuk meningkatkan ketahanan nasional.

Hal ini menjadi satu kebanggaan sekaligus suatu tantangan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk dapat mempertahankan budaya daerah yang ada di tengah banyaknya pengaruh budaya asing yang dapat merusak budaya daerah. Tugas ini tentunya dikhususkan bagi generasi penerus bangsa yang mulai mengabaikan pentingnya peranan budaya daerah untuk memperkokoh ketahanan budaya nasional. Padahal ketahanan budaya bangsa merupakan salah satu identitas negara di mata Internasional.

Indonesia sebagai termasuk salah satu negara kepulauan terbesar di dunia memiliki berbagai macam kebudayaan baik dalam hal Pakaian adat, seni tari, seni musik, senjata, rumah adat dan lain – lain. Sebenarnya hampir seluruh kebudayaan indonesia tidak berasal dari Indonesia sepenuhnya. Kebudayaan – kebudayaan yang berada di indonesia merupakan perpaduan dengan budaya – budaya luar seperti India, Arab, cina (tionghoa) dan lainnya, juga berpadu dengan kebudayaan yang dari awal kita miliki, sehingga indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan, baik bahasa (Sastra), Kesenian, dan lain – lain.

Sudah bukan menjadi rahasia lagi kalau karena keberadaan kebudayaan – kebudayaan daerah yang ada di Indonesia, sehingga Indonesia bisa menjadi di kenal seperti sekarang ini. Kebudayaan Daerah sudah menjadi seperti Identitas adanya negara Indonesia.

 

 

2. Tujuan

Budaya bangsa di Indonesia sangat bermacam, hampir tiap suku mempunyai kebudayaan tersendiri. Mulai dari adat istiadat, tradisi, pakaian adat, rumah adat, makanan khas, dan masih banyak lagi, tiap suku berbeda. Budaya bangsa tercipta dari suatu perbedaan tapi memberi warna tersendiri bagi kebudayaan Indonesia.

Di sekolah – sekolah dan perguruan tinggi kebudayaan diajarkan. Perlu nya agar kebudayaan yang telah tercipta dari para pendahulu kita tidak luntur. Kebudayaan telah membangun jati diri Bangsa Indonesia. Orang – orang yang santun dan ramah tamah tercipta dari kebudayaan daerah yang ada.

Maka mengapa perlunya mempelajari kebudayaan? Agar kita tetap menjadi Bangsa Indonesia yang tak kehilangan jati diri, agar Bangsa Indonesia tetap menjadi bangsa Indonesia yang kaya akan kebudayaan.

 

1.      3. Sasaran

Penulisan makalah ini ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya para kaum muda untuk tetap mau melestarikan kebudayaan bangsa kita ini. Yang merupakan kekayaan sekaligus merupakan ciri dari bangsa Indonesia sendiri. Serta untuk mengajak masyarakat agar tetap mencegah dari pada terkikisnya budaya bangsa ini oleh kebudayaan-kebudayaan yang kerap meimbulkan masalah-masalah sosial.

Makalah ini sebenarnya saya buat untuk generasi – generasi muda baik di lingkungan Universitas Gunadarma, maupun generasi – generasi muda yang berada di luar lingkungan Universitas Gunadarma. Tetapi saya siapkan makalah ini dengan bahasa yang lebih mudah, sehingga walaupun ia masih dalam usia muda (bukan pemuda). Sehingga anak – anak Indonesia dari usia dini sudah mencintai, melindungi serta melestarikan kebudayaan – kebudayaan yang ada di Indonesia. Penulisan makalah ini ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat khususnya para kaum muda

untuk tetap mau melestarikan kebudayaan bangsa kita ini. Yang merupakan kekayaan sekaligus merupakan ciri dari bangsa Indonesia sendiri. Serta untuk mengajak masyarakat agar tetap mencegah dari pada terkikisnya budaya bangsa ini oleh kebudayaan-kebudayaan yang kerap meimbulkan masalah-masalah social.

 

 

BAB.2 PERMASALAHAN

Analisis permasalahan peran budaya daerah memperkokoh ketahanan budaya nasional dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan internal maupun external dilihat dari aspek ;

budaya Indonesia. Ada juga wisatawan asing yang datang langsung ke Indonesia untuk mempelajari kesenian tradisional yang dimiliki Indonesia,Kita sebut saja Bali,Bali adalah suatu pulau yang memiliki keindahan,selain keindahan pulau yang ia miliki,Bali juga memiliki berbagai macam kebudayaan daerah yang menarik dan memiliki ciri unik. Dengan keunikan budaya yang dimiliki Bali,sangat menarik wisatawan asing dari berbaggai penjuru dunia untuk mempelajari kebudayaan Bali sehingga berdampak positif untuk negara salah satunya menambahkan pendapatan devisa negara.

Kebudayaan di Indonesia sangatlah beragam tetapi banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengenal budayanya sendiri. Padahal kebudayaan sangat diperlukan untuk melestarikan sejarah nenek moyang kita. Untuk itu sangat diperlukan peran serta masyarakat dalam melestarikan budaya lokal.

Oleh karena itu permasalahan ini akan kita bahas menggunakan analisis SWOT, sebagai berikut :

 

1. Strenght ( Kekuatan )

a. Peranan budaya daerah sangat berpengaruh untuk membangun ketahanan bangsa Indonesia,karena budaya daerah merupakan kebudayaan yang berasal dari suku bangsa Indonesia yang jumlahnya ratusan,yang pastinya memiliki fungsi memperkokoh kebudayaan Nasional dan mempersatukan berbagai macam keragaman.

b. Selain itu budaya daerah memiliki ciri unik,yang menjadikan bangsa kita dikenal oleh bangsa lain,samapai-sampai berberapa negara didunia mendirikan sebuah sekolah yang mempelajari

a. Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat beranekaragam

b. Setiap daerah di Indonesia memilki ciri khas budayanya masing-masing, karena Indonesia terdiri atas beribu-ribu pulau sehingga mnejadi daya tarik tersendiri bagi para turis asing.

c. Keunikan budaya Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Contohnya seperti rumah adat, pakaian adat, tarian daerah.

d. Memiliki semangant perjuangan bangsa dalam bentuk perjuangan non fisik yang disertai keuletan dan ketangguhan tanpa kenal menyerah dan mampu mengembangkan kekuatan nasional dalam rangak menghadapi segala tantangan, ancaman, hambatan.

 

2.2. Kelemahan (Weakness)

a. Kurangnya kesadaran masayarakat untuk melestarikan budaya daerah masing-masing, sehingga banyak budaya daerah yang tidak dikenal oleh masyarakatnya daerahnya sendiri.

b. Kurangnya minat untuk mempelajari atau mengenal budaya daerah masyarakat.

c. Adanya pengaruh dari budaya asing yang lebih diterima oleh masyarakat dibandingkan budayanya sendiri

d. Seringnya terjadi perpecahan antarsuku karena kurangnya komunikasi antarbudaya.

e. Adanya budaya yang mengikat yang membawa dampak kurang bagus bagi masyarakat yang tidak menganutnya

 

2.3 Peluang (Opportunity)

a. Menjadi negara yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan asing sehingga menambah devisa negara.

b. Dapat mengembangkan hasil-hasil kerajinan tangan yang dimiliki oleh tiap daerah

c. Kebudayaan dijadikan salah satu pemersatu rakyat Indonesia

d. Adanya peluang meninggikan martabat bangsa karena kita dianggap memiliki identitas sebagai bangsa yang berbudaya.

 

2.4. Tantangan/Hambatan (Threats)

a. Masuknya budaya asing sehingga menghilangkan kebudayaan daerah itu sendiri

b. Kurangnya minat masyarakat untuk mengenal budaya daerahnya sendiri

c. Kurangnya sosialisasi dari pemerintah sehinnga banyak kebudayaan Indonesia yang dicuri oleh negara lain

d. Akibat adanya kemajuan teknologi, kebudayaan daerah mulai ditinggalkan oleh masyarakat.

 

BAB III

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

 

1. Kesimpulan

-  Pemerintah masih kurang dalam mensosialisasikan kebudayaan daerah yang ada di Indonesia.

-  Masyarakat kurang memahami akan pentingnya kebudayaan bagi mereka sendiri

-  Akibat kurang perdulinya masyarakat dengan kebudayaan, maka banyak kebudayaan Indonesia                      yang diakui oleh negara lain.

-  Kemajuan teknologi masih belum di manfaatkan dengan baik oleh pemerintah dalam hal mengembangkan kebudayaan yang ada di Indonesia.

 

2. Rekomendasi

 

-           Masyarakat harus lebih mencintai budayanya sendiri agar tidak  diakui oleh bangsa lain.

-           Masuknya budaya asing harus dapat disaring agar tidak merusak kebudayaan daerah itu sendiri.

-           Pemerintah harus lebih aktif dalam menjaga kebudayaan yang kita punya.

-           Adanya program bantuan dari pemerintah untuk pelestarian budaya daerah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

REFERENSI

 

http://tangkaslubis.blogspot.com/2010/03peranan-budaya-lokal-memperkokoh-budaya.html

http://wisnoe33.blogspot.com/2010/03/peranan-budaya-lokal-memperkokoh-budaya.html

http://massofa.wordpress.com/2008/10/21/pengertian-tujuan-dan-ruang-lingkup-ilmu-budaya-dasar/

http://jtnmustlo.worpress.com/2010/03/11/peran-budaya-lokal-memperkokoh-budaya-bangsa/

http://lisca91.weebly.com

http://google.com

http://andry20.blogspot.com/2010/03/peranan-budaya-lokal-memperkokoh-budaya.html

 

 

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment